Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

TEMAN











Berbagi duka dan tawa
Ibarat angin yang menebar keceriaan
Atau bulan yang setia menemani kegelapan
Disaat ku jatuh dan pasrah
Kawan…
Temani bintang yang kesepian
Yang cahayanya nyaris pudar ini
Yang enggan menunjukan kerlip kebahagiaannya
Ayo rangkai sebuah kisah persahabatan
Kisah yang tak pernah berakhir meski di telan waktu
Ayo jalani bersama
Takdir kita jalani dengan penuh perjuangan

Kasih dan Cinta





Kasih dan Cinta
Kasih, cinta telah mencapai garis akhir
Dan mahkota berada di depan cinta
Membela kasih di hadapanya.

Bila kasih bertanya bagaimana cinta mencintainya ?
Kasih telah berkata dalam hatinya,

“Aku Mengasihi Cinta”

“Bagaimana keadaanmu?”
 Lihatlah kasih, bagaimana cinta berbicara
Di mataku di setiap raut wajahmu yang berseri-seri.

Kasih,memang cinta rapuh namun cinta berbuah intan
Kasih mencintainya, waktu yang menciptakan sepasang cinta
dan kasih

Apakah kasih mengasihi?

“cinta mengasihi”

Apakah cinta mencintai?

“Kasih menyayangi”

Jika cinta betanya apakah kasih mencintai?

“Antara kasih dan cinta saling mencintai”

 Dalam cinta dan kasih
Memberikan harapan pagi
Permaisuri mahkota hati di setiap
Deru  angin membawa cinta dan kasih yang berbelas kasih.

Karya : Steven Elli.M


Pluralisme Indonesia

Lautan budaya membentang
700 suku,…
Laksana kupu-kupu cakrawala
166 bahasa,…
Bak kicauan sang merpati
Tunggal ika menjadi penyatu
Sang panca melahirkan semangat
Gambaran lautan demografi

Sejak Majapahit angkat kepala
Toleransi diantara sang dewa
Laksana ribuan kapal, satu dermaga
Melepaskan tali penambat dan berlayar
Mengarungi awan di lereng cakrawala
Sayap filosofi majemuk, terbang tinggi
Menarik indra sang jagat
Benang-benang hati merajut diri
Bangsa raya terpikat lestari
Sang tuan tanah bergoyang riang
Maju sejajar diantara jutaan bintang

Pangkalpinang, 18 Agustus 2016

Theodorus Alvaro Da lopez 

“Merindukan Kedamaian Dibumi Nusa Tadon Adonara”



“Merindukan Kedamaian Dibumi Nusa Tadon Adonara”



Aku berdiri
menatap langit biru tanah Tadon Adonara,lalu

menghitam
Lukisan indah alam negeri berubah
menjadi
pemandangan
penuh haru
Di setiap sudut
bumi Nusa Tadon menangis…ketakutan..Pilu penuh haru.

Ibu Pertiwi Nusa Tadon…aku
tak pernah lagi
melihat senyummu
,
Tak jua kembali
aku mendengar
petuah-petuahmu Yang ada kini kau
membisu diantara
keluh kesah anak
negeri
Semakin hari
semakin membuatmu
nelangsa.
Ibu pertiwi tiba-
tiba menamparku,
berkali-kali,
bertubi-tubi !
Sakit, perih, tapi
aku merasakan kasih yang selama
ini hilang ditelan
kesombongan
Mataku terbelalak
saat saudaraku sendiri harus bersimbah keringat dalam darah.

Rasanya tak ada
lagi waktu
untukku terisak
kembali
Menatap negeri
tercinta dalam lahat kehancuran
Adonara, aku tak
ingin kehilangan
tanah kelahiranku
Tanah yang akan
dan selamanya menjadi tumpah
darahku.

Kurajut asa
lukisan negeri Adonara ini
hanya sepintas
lalu… Berlalu..berlalu..
dan berganti
potret abadi
bersama Adonara
sejati
Biarlah nanti lukisan pedih
tanah air
terbingkai dalam
kenangan
Karena cinta akan
membawa kedamaian dan
kebaikan
Kapanpun…
dimanapun…
siapapun…dan
selamanya…